NADIKABAR.COM — PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan Indonesia dan India menjadi dua negara di dunia yang membuka informasi kepemilikan saham kepada publik untuk pemegang saham dengan porsi di atas 1 persen.
"Kami sudah menyampaikan kepada publik nama pemegang saham di atas 1 persen. Di dunia ini hanya Indonesia dan India yang melakukan itu," kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffery Hendrik dalam lokakarya bertajuk Transformasi Berkelanjutan untuk Pasar Modal Terpercaya dan Tangguh di Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sabtu.
Jeffery menuturkan kebijakan itu menjadi bagian dari reformasi pasar modal Indonesia yang bertujuan meningkatkan kepercayaan investor dan transparansi.
BE juga menambahkan informasi mengenai hubungan afiliasi antarpemegang saham agar para investor dapat mengetahui apakah pemegang saham tertentu memiliki keterkaitan atau tidak dengan pemegang saham lainnya.
Ia menegaskan BEI terus berupaya meningkatkan kualitas data yang disampaikan kepada publik agar bisa memberikan gambaran lebih utuh mengenai struktur kepemilikan emiten di pasar modal Indonesia.
"Sebelumnya hanya nama pemegang sahamnya, kemudian berikutnya kami tambahkan informasi atas klasifikasi investornya. Ke depan, kami tambahkan lagi apakah nama itu terafiliasi atau tidak terafiliasi untuk meningkatkan kualitas dari transparansi tersebut," ucap Jeffrey.
Lebih lanjut dia menyampaikan BEI juga meningkatkan granularitas data investor. Klasifikasi investor yang sebelumnya terdiri atas sembilan kategori, kini diperluas menjadi 39 kategori.
BEI mengumumkan saham-saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration sebagai informasi tambahan bagi investor dalam mengambil keputusan investasi.
Jeffrey berharap transparansi pasar modal Indonesia semakin berkualitas agar mampu memperkuat kepercayaan investor domestik maupun asing.