"Dengan potensi karbon biru dari hutan-hutan mangrove yang ada di NTB, energi terbarukan melalui solar panel, potensi proyek hijau dari hutan yang tersebar di NTB memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi," kata Sandiana.
Lebih lanjut dia memaparkan kawasan hutan, mangrove, atau lahan gambut yang selama ini dianggap tidak menghasilkan uang tunai (kecuali dieksploitasi) kini memiliki nilai ekonomi langsung dari karbon yang tersimpan.
"Perdagangan karbon membantu membiayai program rehabilitasi lahan kritis dan pengawasan lingkungan hidup tanpa bergantung penuh pada APBD standar," katanya.
BEI mendorong pemerintah daerah mengoptimalkan potensi karbon biru melalui keterlibatan badan usaha milik daerah (BUMD) sebagai agregator yang mengonsolidasikan berbagai proyek karbon di Nusa Tenggara Barat.
BUMD dapat menghimpun proyek-proyek penurunan emisi dari sektor kehutanan, mangrove, pengelolaan sampah, maupun energi terbarukan untuk dikembangkan dan didaftarkan sesuai mekanisme yang berlaku.