NADIKABAR.COM — Penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin meningkat untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mencari informasi, membuat tulisan hingga membantu pekerjaan. Di balik layanan tersebut, terdapat infrastruktur pusat data yang membutuhkan listrik dan sistem pendingin agar komputer dapat beroperasi.
Salah satu sumber daya yang ikut digunakan dalam proses tersebut adalah air. Namun, anggapan bahwa setiap pertanyaan yang dikirim ke chatbot secara langsung menghabiskan sejumlah besar air perlu dilihat secara lebih hati-hati karena penggunaan air berbeda-beda bergantung pada model AI, pusat data, sistem pendingin, lokasi dan sumber listrik yang digunakan.
Lantas, mengapa chatbot AI membutuhkan air? Ini penjelasannya.
1. Air digunakan untuk mendinginkan pusat data
Chatbot AI dijalankan menggunakan server dengan komponen komputasi berdaya tinggi. Ketika server bekerja, perangkat tersebut menghasilkan panas sehingga membutuhkan sistem pendingin agar tetap beroperasi pada suhu yang sesuai.
Sebagian pusat data menggunakan air dalam sistem pendinginnya. Air dapat membantu menyerap dan membuang panas dari fasilitas pusat data. Karena itu, semakin besar kebutuhan komputasi, semakin besar pula tantangan dalam mengelola panas dan penggunaan sumber daya untuk pendinginan.
Namun, tidak semua pusat data menggunakan jumlah air yang sama. Teknologi pendingin, kondisi iklim, desain fasilitas dan kebijakan pengelolaan air dapat memengaruhi kebutuhan air masing-masing pusat data.
2. Bukan hanya untuk menjalankan chatbot