Pasalnya, cadangan terbukti hanya mencakup sumber daya yang diketahui dan dapat diproduksi secara ekonomis berdasarkan kondisi tertentu. Seiring berkembangnya teknologi dan ditemukannya proyek baru, jumlah cadangan yang dapat diproduksi juga dapat berubah.
Artinya, dunia tidak harus menunggu sampai satu hari ketika seluruh minyak di dalam bumi benar-benar kosong untuk kemudian berhenti menggunakannya.
Justru, perubahan teknologi, harga, kebijakan energi dan munculnya sumber energi alternatif dapat membuat permintaan minyak menurun sebelum cadangan bumi benar-benar habis.
Kapan penggunaan minyak diperkirakan mencapai puncak?
Di sinilah prediksi para ahli energi menjadi menarik.
Dalam World Energy Outlook 2025, International Energy Agency (IEA) memproyeksikan bahwa dalam skenario Stated Policies Scenario atau STEPS, permintaan minyak dunia akan mencapai sekitar 102 juta barel per hari pada sekitar 2030 sebelum kemudian berangsur menurun. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah meningkatnya penggunaan kendaraan listrik.
IEA juga mencatat dalam laporan Oil 2025 bahwa berdasarkan kebijakan dan tren pasar yang ada saat laporan tersebut dibuat, permintaan minyak global diperkirakan meningkat hingga sekitar 105,5 juta barel per hari pada akhir dekade sebelum memasuki fase datar dan mulai mengalami penurunan kecil pada 2030.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu prediksi tunggal mengenai masa depan minyak bumi. Hasilnya sangat bergantung pada asumsi mengenai kebijakan pemerintah, pertumbuhan ekonomi, perkembangan kendaraan listrik, teknologi energi bersih serta kondisi pasar.
Ketika membicarakan berkurangnya penggunaan minyak, kendaraan bermotor sering menjadi perhatian utama. Namun, minyak bumi juga digunakan untuk berbagai kebutuhan lain.