Sementara itu, untuk titik lokasi lain yang didominasi perempuan, tim menyesuaikan rentang usianya mulai dari kelompok ibu-ibu usia 30 hingga 60 tahun, serta melibatkan anak muda untuk lokasi seperti Danau Toba dan area wisata air mancur.
"Kalau misalnya Bene melihat, 'Oh di sini biasanya dominannya ibu-ibu. Di sini kita pindah ibu-ibu, tapi umurnya mungkin 30 sampai 40 (tahun), di sana 50 (tahun), di tempat lain 60 (tahun). 'That's why' di setiap tempat kami enggak pakai 'extras' yang sama. 'Extras'-nya kami ganti di setiap tempat," kata Dipa Andika.
Sementara itu, komposer Viky Sianipar merancang aransemen lagu medlei untuk merangkum musik tradisi rumpun etnis Sumatra Utara, meliputi Batak Toba, Karo, Simalungun, hingga Pakpak.
Viky menjelaskan porsi Batak Toba mendominasi komposisi musik sebesar 80 persen, sedangkan unsur etnis lainnya diselipkan melalui struktur medlei.
"Semua lengkap sih, karena pada dasarnya 80 persen ini Batak Toba ya. Tapi kenyataannya ada medlei itu yang mau menunjukkan unsur etnis," kata Viky Sianipar.