NADIKABAR.COM — abad, proyeksi Mercator menjadi salah satu cara paling berpengaruh dalam menggambarkan dunia, terutama untuk kebutuhan navigasi.
Masalahnya, cara ini membuat ukuran sejumlah wilayah terlihat jauh lebih besar atau lebih kecil dibandingkan luas sebenarnya. Salah satu contoh paling mencolok adalah Greenland. Dalam peta Mercator, pulau raksasa di kawasan Arktik itu tampak hampir sebesar Afrika. Padahal, jika dibandingkan berdasarkan luas sebenarnya, Afrika sekitar 14 kali lebih luas daripada Greenland.
Kini, cara dunia digambarkan di peta mulai mendapat koreksi. Perubahan itu didorong Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui penggunaan Equal Earth, yakni sistem untuk mengubah permukaan Bumi yang bulat menjadi gambar datar dengan ukuran benua yang lebih proporsional. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Jumat (4/9/2026), mengesahkan resolusi yang mendorong penggunaan proyeksi peta yang menampilkan luas benua secara lebih proporsional.
Namun, resolusi PBB tersebut bukan berarti melarang peta Mercator. Negara, sekolah, lembaga, maupun perusahaan tetap dapat menggunakan proyeksi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Nah, tahukah kamu Mercator itu adalah nama seorang tokoh yang ahli membuat peta?
Gerardus Mercator lahir di Rupelmonde, Flanders (sekarang Belgia) pada 5 Maret 1512 dan merupakan anak ketujuh dari pasangan Hubert dan Emerentia Kremer. Hubert merupakan seorang buruh tani sekaligus tukang sepatu.
Gerard lahir di Rupelmonde, tetapi beberapa minggu setelah kelahirannya keluarganya kembali ke Gangelt. Ia menghabiskan sekitar lima tahun pertama hidupnya di sana sebelum keluarganya kembali ke Rupelmonde. Di kota inilah ia kemudian mulai bersekolah dan mempelajari bahasa Latin, agama, serta aritmatika.
Pada usia tujuh tahun, ia sudah fasih berbicara dan membaca bahasa Latin meskipun kehidupannya cukup sulit pada saat itu.
Gerard memiliki seorang paman yang belajar di Louvain University sekaligus menjadi pastor di Rupelmonde bernama Gisbert. Hal ini mempengaruhi impian Gerard dan saudara-saudaranya yang lain, untuk menempuh karier di gereja. Ditambah, dua orang kakak Gerard memang menempuh jalan karier yang sama.
Setelah sang ayah meninggal, Gerard dikirim oleh Gisbert, yang merupakan wali sah, untuk dididik bersama Brethren of the Common Life di Hertogenbosch, Belanda pada 1527. Tidak lama, saat ia sudah di Belanda, ibunya meninggal.
Gerard kemudian memilih nama baru untuk digunakan. Nama belakangnya, Kremer, merupakan pedagang dalam bahasa Jerman. Di Belanda, ia juga kerap dipanggil Cremer yang memiliki arti sama.
Selanjutnya, ia memilih nama Mercator yang memiliki arti pedagang dalam bahasa Latin. Lengkapnya, menjadi Gerardus Mercator de Rupelmonde.