NADIKABAR.COM — Mulai populer digunakan pasca Covid-19 melanda, Artificial Intelligence (AI) alias kecerdasan buatan sudah menjadi bagian hidup tak terpisahkan masyarakat modern. Semakin hari, perkembangannya kian pesat.
Disadur dari Swiss Cyber Institute, konsep AI muncul tahun 1950 ketika para peneliti mulai menjajaki kemungkinan kecerdasan yang bisa dites dan dimasukkan mesin. Pada 1956, peneliti Dartmouth Summer Research Project resmi memperkenalkan kata AI.
Penggunaan AI di dunia modern nyata diawali pada periode 2016-2019. Dari sana, AI terus dikembangkan sampai detik ini. AI digunakan dalam pelbagai bidang, mulai dari teknologi, industri, bisnis, transportasi, hingga media.
Seperti segala suatunya di dunia ini, tanggapan pro-kontra terhadap AI muncul. Salah satu yang begitu sering didengungkan adalah AI menghabiskan banyak air bersih. Benarkah? Seberapa banyak? Di bawah ini penjelasannya.
Pertama-tama, yang perlu dijawab adalah, 'benarkah AI membutuhkan air?'. Jawabannya, benar.
Dirujuk dari Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE Spectrum), pusat data (data center) AI untuk menjalankan model kecerdasan buatan menggunakan listrik dalam jumlah besar. Alhasil, panas tinggi pun muncul.