Trenggono menambahkan langkah itu merupakan upaya BGN menyediakan makan bergizi untuk kabupaten dan kota di wilayah timur Indonesia, yang prevalensi angka kekurangan gizi (stunting) tinggi dengan kisaran 20-30 persen, utamanya balita dan anak-anak.
"Tentunya dengan beroperasinya SPPG ini tadi kami melihat antusias pelajar dan masyarakat yang memang menginginkan daerah ini juga ada MBG," ujarnya.
Trenggono menjelaskan BGN akan terus memperluas cakupan MBG dengan membangun fasilitas SPPG utamanya daerah yan aksesnya jauh dari perkotaan. Pembangunan SPPG di wilayah 3T tersebut, akan didata secara khusus melihat kondisi lingkungan untuk mempermudah jangkauan operasional pelayanan.
"Tentunya kami berharap kerja sama semua pihak dengan pemerintah daerah agar bisa bersama-sama mengawasi program MBG ini," jelasnya.