NADIKABAR.COM β€” Bank Indonesia (BI) menargetkan nilai transaksi menggunakan mata uang lokal atau local currency transaction (LCT) mencapai 55 miliar dolar AS pada 2026.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, peningkatan transaksi LCT didukung oleh kerja sama dengan sejumlah negara mitra dagang Indonesia.

β€œSekarang kita sudah hampir bekerja sama dengan 6-7 negara di mana transaksi kita dengan mitra utama kita itu kita gunakan mata uang lokal masing-masing. Dan saat ini transaksinya, perkiraan tahun ini 55 miliar dolar AS, padahal tahun lalu itu baru sekitar 25 miliar dolar AS,” kata Destry dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin.

Ia menyebut China menjadi salah satu kontributor utama dalam pencapaian mekanisme LCT tahun ini.

Menurut Destry, diversifikasi penggunaan mata uang dalam transaksi ekspor, impor, maupun investasi diharapkan bisa mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. ​Tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga diharapkan dapat lebih seimbang.

Selain LCT, BI terus memperluas kerja sama pembayaran lintas negara melalui QRIS. Destry menyebut QRIS lintas negara (Cross-Border) saat ini telah diterapkan di tujuh negara.

Saat ini BI membuka peluang perluasan kerja sama dengan sejumlah negara lain.

Singapura, misalnya, berminat bergabung dalam skema LCT, sementara India menunjukkan minat untuk bekerja sama dalam LCT dan QRIS lintas negara.

"Jadi bilateral approach terus kita lakukan. Karena dalam kondisi kayak gini memang yang menjadi lebih efektif adalah pendekatannya sifatnya bilateral," ujarnya.

Berdasarkan data BI hingga kuartal III 2026, jumlah pengguna QRIS tercatat mencapai 70,6 juta dengan 49,4 juta merchant. Sebanyak 97 persen merchant tersebut merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dari sisi transaksi, volume transaksi QRIS pada kuartal III 2026 tumbuh 75,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).