NADIKABAR.COM — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang, Jawa Timur, terus mengupayakan kesinambungan informasi dan rekam jejak kebijakan lewat pengelolaan arsip sebagai bagian upaya merawat sejarah dan pengetahuan bangsa.

Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Malang Abidin Abdul Haris mengatakan arsip memiliki peran strategis dalam menjaga kesinambungan informasi, khususnya sebagai rekam jejak kebijakan yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan di masa mendatang.

"Arsip merekam perjalanan kebijakan dari masa ke masa. Dokumen yang tertata dengan baik memungkinkan generasi penerus memahami keputusan masa lalu sekaligus mengambil pelajaran untuk mengambil keputusan (kebijakan) di masa mendatang," ujar Abidin Abdul Haris di sela membuka Seminar Nasional Kearsipan dalam rangkaian Lentera Fest 2026 di Perpustakaan Kota Malang, Jumat.

Menurut dia, penyelamatan arsip menjadi kunci menjaga rekam jejak kebijakan, kesinambungan informasi dan memori kelembagaan agar tetap menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang.

Seminar Nasional Kearsipan mengusung tema Penataan dan Penyelamatan Memori Lembaga: Menjaga Jejak, Memelihara Bangsa.

Pada kesempatan itu, Abidin menyoroti pentingnya pengelolaan arsip sebagai bagian dari upaya merawat sejarah dan pengetahuan bangsa, bukan sekadar menyimpan dokumen.

Biasanya, lanjutnya, arsip itu dibayangkan sebagai dokumen yang menumpuk. "Bagi kami di Bank Indonesia, arsip itu sangat penting, karena salah satunya berkaitan dengan kesinambungan informasi,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran kearsipan di berbagai lingkungan, mulai dari lembaga pemerintahan dan institusi hingga masyarakat. Tanpa pengelolaan yang baik, informasi penting dan rekam jejak kelembagaan berisiko terputus seiring pergantian generasi.

Seminar Nasional Kearsipan tersebut menghadirkan Nugroho dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Dino Wahyu Saputro dari Bank Indonesia sebagai narasumber.

Selain itu, penulis sekaligus pencipta lagu Dee Lestari turut berbagi perspektif dalam forum yang dipandu jurnalis independen Andini Effendi tersebut.

Kehadiran para narasumber dari bidang kearsipan, perbankan dan dunia kreatif memperluas pembahasan mengenai pentingnya menjaga memori, mendokumentasikan perjalanan, serta meneruskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.

Selain seminar, BI Malang juga menghadirkan stan edukasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah. Pengunjung dapat mempelajari keaslian uang rupiah, mengenali pengaman seperti gambar saling isi (recto verso), serta memahami penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).