NADIKABAR.COM — Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menilai perdagangan lintas batas dengan Timor-Leste dan Australia berpeluang memperluas pasar produk unggulan daerah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan efisiensi distribusi dan pengembangan industri pengolahan.
Ekonom junior BI Perwakilan NTT Ahmad Akhirul Fatoni di Alor, Kamis mengatakan posisi geografis NTT yang berbatasan langsung dengan Timor-Leste dan relatif dekat dengan Australia menjadi keunggulan untuk memperluas jangkauan perdagangan regional.
“NTT memiliki potensi yang besar, baik dari sumber daya alam maupun pariwisata. Potensi ini perlu didukung konektivitas, akses pasar, dan pengembangan industri pengolahan agar memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah,” kata Fatoni saat membawakan materi Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Inflasi, dan Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) dalam kegiatan Capacity Building Media 2026 di Kalabahi, Kabupaten Alor.
Ia menjelaskan, selama ini distribusi barang dari NTT masih banyak bergantung pada jalur perdagangan melalui wilayah lain di Indonesia. Karena itu, pengembangan akses perdagangan langsung ke pasar regional perlu dikaji untuk meningkatkan efisiensi distribusi dan memperluas pemasaran produk unggulan daerah.
Menurut Fatoni, salah satu opsi yang dapat dikaji adalah pengembangan kawasan perdagangan bebas atau Free Trade Zone (FTZ). Namun, gagasan tersebut membutuhkan kajian mendalam, persiapan, serta proses kebijakan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan sebelum dapat direalisasikan.
Peluang perdagangan lintas batas tersebut juga perlu didukung pengembangan industri pengolahan agar komoditas unggulan NTT tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.