Ia menilai sejumlah komoditas, seperti rumput laut, kelapa, porang, dan garam, memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah yang dapat menjangkau pasar lebih luas.

Rumput laut, misalnya, dapat diolah menjadi bahan baku industri makanan dan kosmetik, sedangkan kelapa dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, mulai dari sabun hingga arang berbahan tempurung.

Selama ini, keterbatasan industri pengolahan menyebabkan sebagian komoditas unggulan NTT dikirim ke luar daerah dalam bentuk bahan mentah untuk diproses lebih lanjut. Kondisi tersebut membuat potensi penciptaan nilai tambah belum sepenuhnya dinikmati masyarakat setempat.

Dengan penguatan hilirisasi, menurut dia, NTT berpeluang memperpanjang rantai nilai ekonomi, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pengembangan usaha berbasis komoditas lokal.

Selain akses pasar, ketersediaan energi menjadi faktor penting untuk mendukung pengembangan industri pengolahan di NTT.

Fatoni mengatakan NTT memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT), antara lain tenaga surya, angin, dan panas bumi, serta potensi energi laut yang masih memerlukan kajian lebih lanjut.