Ia menilai volatilitas yang terjadi masih merupakan dinamika pasar yang biasa, dan masih bisa terus dipantau bank sentral.

β€œEnggak, enggak. Ini kita ya (menghadapi) volatility biasa, ya. Tapi kita kan ada terus monitor, ya. Kita lihat root-cause-nya juga,” ujarnya.

Adapun rupiah tercatat melemah 0,30 persen ke level Rp18.135 per dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik geopolitik di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah.