NADIKABAR.COM β Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menekankan pentingnya kemandirian dan ketahanan energi sebagai fondasi menuju Indonesia menjadi negara maju dalam 20 tahun mendatang.
βTidak ada negara yang bisa meloncat dari negara menengah ke maju tanpa membangun kemandirian negara,β kata Bima saat memberikan kuliah umum di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (30/9).
Bima menyampaikan hal tersebut dalam Studium Generale Perwira Siswa Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Sesko AU) Angkatan 65 di Gedung Widya Mandala I, Sesko AU, Lembang.
Ia mengatakan Indonesia berada pada fase penting untuk menentukan arah pembangunan ke depan. Menurut dia, sejumlah lembaga internasional memproyeksikan Indonesia berpotensi menjadi salah satu dari lima kekuatan ekonomi terbesar dunia dalam 20 tahun mendatang.
Namun, peluang tersebut perlu diikuti dengan kemampuan membangun kemandirian di berbagai sektor, termasuk energi. Ketergantungan terhadap energi dapat memengaruhi ketahanan negara, terutama ketika dinamika geopolitik global semakin kompleks.
Bima mengatakan ancaman terhadap negara kini tidak hanya berbentuk konvensional, tetapi juga berkembang ke ranah siber, informasi, dan energi. Karena itu, ketahanan nasional perlu diperkuat tidak hanya secara fisik, tetapi juga dalam menghadapi perubahan di ruang digital dan informasi.
Ia menjelaskan energi menjadi fondasi berbagai aktivitas, mulai dari pelayanan publik, industri, transportasi, fasilitas kesehatan, sistem pertahanan, hingga infrastruktur digital.
Karena itu, ketahanan energi perlu dipersiapkan dengan memperhatikan ketersediaan energi baru dan terbarukan, kemampuan teknologi, serta kesiapan masyarakat dalam menerima perubahan.
Bima juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mendukung agenda ketahanan energi. Setiap daerah memiliki potensi yang berbeda sehingga pemerintah daerah perlu mengidentifikasi potensi energi, kapasitas fiskal, sumber daya manusia, infrastruktur, dan sumber daya alam.
βDaerah ini penting. Mereka ini sekarang adalah frontliners, ada di garis depan untuk ketahanan energi,β ujarnya.
Dalam paparannya, Bima menyampaikan tiga strategi yang tengah didorong pemerintah, yakni mempercepat transisi menuju energi baru dan terbarukan, memperkuat cadangan dan diversifikasi energi nasional, serta mengubah pola konsumsi melalui elektrifikasi dan efisiensi energi.
Sebagai salah satu contoh, Bima menyoroti pengolahan sampah menjadi energi listrik di Bogor. Ia menyebut wilayah tersebut menghasilkan sekitar 4.000 ton sampah per hari dari kota dan kabupaten, sementara sebagian sampah dapat diolah menjadi energi listrik.
Menurut dia, pemanfaatan sampah menjadi energi dapat menjadi salah satu upaya mengurangi timbunan sampah sekaligus mengembangkan sumber energi alternatif.
Bima berharap para Perwira Siswa Sesko AU memahami keterkaitan antara ketahanan energi, pembangunan daerah, dan ketahanan nasional. Pemahaman tersebut diharapkan membantu para pemimpin masa depan membaca potensi daerah dan membangun kolaborasi dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks.