Menurut Dicky, Bio Farma telah melakukan persiapan teknis dan manufaktur seiring dengan pengembangan kandidat. Ia berharap pengembangan dapat mencapai tahap lanjutan pada 2028 atau 2029, termasuk kemungkinan peningkatan skala produksi. Kemajuan ke tahap berikutnya bergantung pada hasil uji klinis dan pemenuhan persyaratan regulasi.
Dicky menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar pengembangan vaksin dapat mendukung upaya eliminasi TB. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari jumlah orang yang menderita TB di dunia pada 2024, menjadikannya penyumbang terbesar kedua setelah India.
Dalam wawancara di sela forum, Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya menyoroti potensi M72/AS01E, kandidat vaksin TB yang awalnya dikembangkan oleh GlaxoSmithKline (GSK). Kandidat tersebut telah melalui uji klinis fase 1 dan 2 dan kini masih menjalani uji fase 3 yang disponsori oleh Gates Medical Research Institute (Gates MRI).
“Bagi Bio Farma, kemitraan internasional perlu memperkuat kemampuan industri di Indonesia agar kita lebih siap mendukung pasokan vaksin TB bagi masyarakat. Untuk kandidat M72, kami sedang menjajaki kerja sama dengan Serum Institute of India untuk melihat kemungkinan alih teknologi formulasi di dalam negeri,” ujar Shadiq.