Gus Kautsar lalu menjelaskan, sekitar pertengahan 2024, dirinya pernah menerima kedatangan utusan salah satu penulis buku. Saat itu, orang tersebut datang bersama keluarganya ke Ponpes Al Falah, Ploso, Kediri.
Dalam pertemuan tersebut, Gus Kautsar mengaku mendapat sejumlah pertanyaan mengenai pandangan pesantren terhadap kebangsaan, keberagaman, kebinekaan, serta bagaimana pesantren turut mengisi dan merawat kemerdekaan Indonesia.
"Jadi bukan masalah keberatan atau tidak. Kita itu tahun 2024, pertengahan, ada orang utusan salah satu penulis itu datang ke sini. Kemudian tanya terkait keindonesiaan, bagaimana posisi pesantren, merawat kemerdekaan," kata Gus Kautsar kepada NadiKabar, Selasa (8/9/2026).
"Karena wawancaranya waktu itu adalah wawancara terkait masalah kebangsaan. Bagaimana pandangan pesantren terkait keberagaman, kebinekaan, kemudian bagaimana mengisi kemerdekaan," imbuhnya.
Dalam perbincangan tersebut juga sempat muncul pertanyaan mengenai sejumlah program pemerintah dan Presiden Prabowo Subianto. Namun, Gus Kautsar mengaku tidak mengetahui bahwa wawancara tersebut merupakan bagian dari proyek penyusunan buku Islam ala Prabowo.
Ia menyebut, sejak awal dirinya tidak pernah diberi tahu bahwa hasil wawancara akan digunakan untuk sebuah buku dengan judul tersebut. "Kita nggak ngerti kalau kemudian berjudul seperti ini. Kita tidak sadar," ujarnya.