Kondisi tersebut juga membuat penjualan mereka melambat secara drastis. Secercah harapan baru muncul pada tahun 2018 ketika mereka mulai merambah proyek-proyek pemerintah, menyuplai sebagian pengadaan kasur nasional, serta mulai melirik pasar ekspor.

Namun, ujian terbesar bisnis mereka datang pada tahun 2020. Pandemi COVID-19 menghantam telak dan nyaris membuat perusahaan springbed ini bangkrut. Selama tujuh bulan lamanya, tidak ada satupun order yang masuk. Seluruh pesanan tertunda, membuat kondisi keuangan bisnis ini berada di titik paling kritis.

Setelah melewati masa tersebut, Trendy Springbed berupaya membangun sumber pertumbuhan bisnis yang lebih berkelanjutan. Memasuki tahun 2021, perusahaan ini berinvestasi lebih serius untuk memperluas pasar ekspor, termasuk membeli mesin vacuum agar pengiriman produk ke luar negeri menjadi lebih efisien.

Sayangnya, pasar ekspor tidak berjalan seindah bayangan dan penjualannya mandek. Dari situlah, Leo dan kedua saudaranya mulai berpikir ulang dan mencari jalur distribusi alternatif hingga akhirnya mantap masuk ke ranah e-commerce, dan Shopee menjadi pilihan utamanya.

"Awalnya saya bahkan tidak terlalu mengerti sistem e-commerce. Saya pikir, kalau bisa jual lima sudah bagus. Tapi ternyata, langsung laku 60 unit meski baru sebulan bergabung," kata Leo.

Berkat pencapaian awal yang mengejutkan tersebut, Trendy Springbed semakin serius merambah pasar melalui e-commerce. Leo memaparkan keberhasilan di ranah digital tentu tidak lepas dari optimalisasi yang mereka lakukan di ekosistem Shopee.