"Kadang dia timuran, kalau timuran mungkin kembali bersih lagi. Tapi, ini agak turun indikatornya PM 2.5 (partikel udara 2,5 mikrometer). Kalau misalnya anginnya berubah haluannya dari barat, kemungkinan partikel asapnya ini akan masuk ke wilayah Sulsel," tutur dia.
Asriani menuturkan, faktor penyebab utama kualitas udara salah satunya asap. Asap kiriman dari Kalimantan bagian selatan dan wilayah Papua dan Maluku apat berpotensi masuk ke wilayah Sulawesi dibawa angin.
"Jadi ada dua faktor. Kalau misalnya angin timuran bisa saja asap karhutla dari Papua, Maluku. Sedangkan, kalau tiba-tiba anginnya berubah haluan menjadi dari barat, kemungkinan yang dari (asap karhutla) Kalimantan masuk, karena lebih dekat," paparnya menjelaskan.Asrani menjelaskan, prakiraan cuaca dan angin terus dipantau dari 24 jam hingga 72 jam ke depan. Namun kondisi dapat berubah-ubah seiring dengan arah angin yang membawa asap tersebut di titik merah pemantauan wilayah Sulawesi dan sekitarnya.
"Kami masih dipantau terus dan memang mungkin beberapa hari ke depan masih sama (kualitas udara tidak sehat), karena kalau dilihat ini masih merah-merah sekali, masih kuat sekali," tuturnya sembari menunjukkan di peta pemantauan asap karhutla.
Selain perubahan cuaca, faktor lain adanya suhu panas. Dari pantauan cuaca panas masih terjadi di wilayah Kota Makassar dan sekitarnya. Selama musim kemarau, cuaca terlihat normal dengan suhu udara di Sulsel berkisar 30-35 derajat celcius.