NADIKABAR.COM — BMKG Juanda mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi dampak El Nino. Fenomena iklim alamiah ini diprakirakan terjadi hingga Februari 2027 dan berpotensi memundurkan awal musim hujan di Jawa Timur, khususnya di Surabaya.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan mengatakan bahwa El Nino ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian tengah dan timur. Kondisi ini menurunkan curah hujan dan membuat musim kemarau terasa lebih kering.
"Secara umum, dampak El Niño di Indonesia adalah berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah. Ketika curah hujan berkurang, sumber daya air seperti waduk, sungai, maupun sumur juga bisa mengalami penurunan," kata Taufiq, Sabtu (12/9/2026).
Taufiq menjelaskan, kemarau yang berbarengan dengan El Nino berpotensi lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Dampak buruk yang perlu diwaspadai ialah risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Berdasarkan prakiraan BMKG dan Badan Meteorologi Dunia, El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga Februari 2027. Dampaknya, awal musim hujan berpotensi mengalami kemunduran. Karena itu, mitigasi perlu diperkuat, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi kemarau," jelasnya.
Sementara Prakirawan BMKG Juanda, Siska Anggraeni mengatakan, wilayah Surabaya masih berada di puncak musim kemarau. Teriknya matahari siang hari dan rendahnya kelembapan udara bikin suhu terasa kian panas.
Bahkan, pada periode September hingga November yang seharusnya masuk musim penghujan, curah hujan di Surabaya diprakirakan relatif rendah akibat pengaruh El Nino yang masih cukup kuat.
"Pengaruh El Niño yang masih kuat ini kemungkinan akan memundurkan awal musim hujan. Jadi, curah hujan masih relatif rendah karena kondisi kemarau yang diperkuat oleh fenomena tersebut," kata Siska.
Menurutnya, minimnya tutupan awan menyebabkan radiasi matahari langsung menerpa permukaan bumi. Di wilayah perkotaan seperti Surabaya, kondisi ini diperparah oleh efek urban heat atau pemanasan perkotaan.
"Untuk hidrometeorologi kering di Surabaya, yang perlu diwaspadai tim redaksi lain kekeringan meteorologis, krisis suplai air bersih, serta potensi kebakaran lahan dan permukiman," pungkasnya.
BMKG Juanda menyampaikan, dampak kemarau di setiap sudut Kota Surabaya memiliki karakteristik ancaman yang berbeda-beda:
• Surabaya Barat & Selatan: Memiliki banyak vegetasi dan lahan terbuka, sehingga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan.• Surabaya Utara & Timur: Berada di kawasan pesisir, perlu mengantisipasi potensi banjir rob dan angin kencang.• Surabaya Pusat: Perlu mewaspadai ancaman kekeringan dan angin kencang di tengah tingginya mobilitas masyarakat.