NADIKABAR.COM — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang menjadi upaya pemerintah mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Papua Selatan, terkendala minimnya bibit-bibit awan penghujan.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan di Jakarta, Selasa, mengatakan upaya modifikasi cuaca itu menjadi salah satu instrumen penting yang diandalkan untuk memperbesar potensi hujan di wilayah-wilayah prioritas yang rawan mengalami kebakaran lahan.
BNPB sampai hari ini secara akumulatif telah menyebarkan sebanyak 20.000 kilogram bahan semai natrium klorida (NaCl) melalui pelaksanaan 20 sorti penerbangan modifikasi cuaca di Papua Selatan.
"Dengan pelaksanaan OMC yang terus dievaluasi dan disesuaikan dengan ketersediaan awan, BNPB berharap penanganan darurat karhutla di Papua Selatan dapat berjalan lebih efektif ke depannya," kata dia.
Ia mengungkapkan sebaran titik panas atau hotspot baru yang terdeteksi oleh petugas justru terpantau lebih banyak terkonsentrasi di bagian timur serta bagian selatan provinsi tersebut.
Sementara berdasarkan pemantauan cuaca, pertumbuhan awan di wilayah Papua Selatan bagian tengah dan utara dinilai relatif memadai, sehingga pelaksanaan OMC dapat difokuskan secara optimal di kedua kawasan tersebut.
"Penanganan saat ini ada di seluas 455 hektare (yang terbakar) atau sudah atau turun 25 persen. Pemerintah melalui BNPB akan terus memantau perkembangan cuaca secara berkala serta menyesuaikan strategi penanganan udara guna mengantisipasi perluasan dampak karhutla di tengah dinamika cuaca yang ada," kata dia.