Dalam kesempatan itu, Eddy mendorong para peserta menjadikan Kemah Kebangsaan sebagai ruang untuk memperkuat persaudaraan, menjunjung keadilan, serta membiasakan dialog ketika menghadapi perbedaan.
Ia menegaskan diskriminasi dan kekerasan tidak boleh menjadi cara untuk menyelesaikan persoalan.
Sementara itu, salah seorang perwakilan pelajar yang mengikuti kegiatan, Biru mengaku ingin membawa pengalaman dan pelajaran dari kemah tersebut ke lingkungan sekolah, terutama dalam membangun pertemanan yang lebih saling menghargai.
"Setelah kegiatan ini saya akan lebih menghargai perbedaan yang ada di lingkungan kelas maupun sekolah seperti perbedaan suku," tutur Biru.
Dia juga mengajak sesama pelajar untuk menjauhi berbagai bentuk kegiatan negatif seperti perundungan (bullying), kekerasan fisik serta tindakan yang dapat merusak mental sesama teman.
Pengalaman tersebut menunjukkan pendidikan kebangsaan bukan hanya tentang menghafal nilai-nilai Pancasila atau memahami semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Lebih dari itu, nilai kebangsaan perlu hadir dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam cara berbicara, menggunakan media sosial, menyikapi perbedaan pendapat, dan memperlakukan orang lain.