"Alhamdulillah, harapan dan mimpi Bo' Sangaji Kai mendapatkan MoW UNESCO akhirnya terwujud," kata Kepala Museum Samparaja Bima, Dr. Dewi Ratna Muchlisa, yang merupakan keturunan Sultan Bima XIV Muhammad Salahuddin, Minggu.

Bagi Dewi, pengakuan itu membuktikan bahwa leluhur masyarakat Bima telah memiliki pemikiran dan pengetahuan yang maju. Berbagai aspek kehidupan, mulai dari pemerintahan, hukum, perdagangan, hubungan sosial, hingga perlindungan perempuan, terekam dalam manuskrip yang diwariskan lintas generasi tersebut.

Bo' Sangaji Kai berasal dari dua kata dalam bahasa Bima. Bo' berarti buku, sedangkan Sangaji Kai merupakan gelar bagi Raja Bima sebelum kerajaan tersebut berubah menjadi kesultanan. Dengan demikian, Bo' Sangaji Kai dapat dimaknai sebagai kitab catatan kerajaan dan Kesultanan Bima.

Tradisi pencatatan sejarah tersebut awalnya menggunakan daun lontar dengan bahasa dan aksara Bima (Mbojo). Pada masa Sultan Abil Khair Sirajuddin yang memerintah pada 1645, tradisi penulisan kemudian menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Arab.