Sebagai upaya memastikan praktik perawatan mandiri yang aman, pihaknya berupaya menangkal risiko salah guna maupun disinformasi obat dengan memperkuat transparansi informasi melalui digitalisasi.

Ia mencontohkan penggunaan 2D Barcode, e-labelling, aplikasi BPOM Mobile, pengawasan siber di e-commerce, serta intensifikasi edukasi masyarakat lewat kampanye Cek KLIK (Cek Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa).

BPOM menegaskan komitmen mendukung transformasi kesehatan masyarakat melalui penguatan praktik perawatan kesehatan mandiri yang aman, rasional, dan berbasis bukti.

"Peran regulator kini bertransformasi dari sekadar gatekeeper menjadi bridge (jembatan) yang menghubungkan inovasi industri dengan perlindungan kesehatan publik. Pendekatan berbasis risiko dan kolaborasi Academia-Business-Government (ABG) menjadi kunci untuk mempercepat akses produk obat yang aman, efisien, dan bermutu tanpa mengorbankan standar keselamatan," ujar Taruna.