NADIKABAR.COM — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjalin kolaborasi dengan 187 kampus top Indonesia sebagai upaya memajukan ekosistem produk obat terapi lanjutan (Advanced Therapy Medicinal Products/ATMP) melalui riset, inovasi, dan hilirisasi.

Hal itu disampaikan Kepala BPOM Taruna Ikrar di Jakarta, Selasa, dalam penandatanganan komitmen bersama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) untuk pengembangan ekosistem terapi sel punca.

Taruna Ikrar menjelaskan saat ini Indonesia baru mengesahkan satu jenis ATMP, namun produk itu masih diimpor. Sebagai perbandingan, katanya, US Food and Drugs Administration (FDA) sudah memberi izin bagi 48 produk ATMP, sementara Jepang kurang lebih 26 produk.

Taruna menyebutkan peluang pasar global ATMP sebesar 50 miliar dolar AS pada 2025 dan diproyeksikan mengalami peningkatan 14,15 persen setiap tahunnya. "Sehingga diprediksi dalam waktu tidak terlalu lama akan meningkat menjadi tiga kali lipat sampai empat kali lipat. Meningkat menjadi 200 persen dari yang sekarang," ujarnya.