NADIKABAR.COM — Nilai ekspor Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Juli 2026 tercatat mencapai US$ 166 juta. Angka tersebut meningkat 38,90 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Wahyudin mengatakan kenaikan ekspor tersebut terutama didorong oleh meningkatnya ekspor barang nontambang, khususnya kelompok komoditas tembaga dan perak hasil industri smelter.

"Peningkatan ini disebabkan oleh peningkatan ekspor barang nontambang pada kelompok tembaga dan perak hasil industri smelter serta kelompok ikan dan udang," kata Wahyudin usai rilis data ekspor di kantornya, Selasa (1/9/2026).

Berdasarkan komoditasnya, tembaga menjadi penyumbang terbesar ekspor NTB pada Juli 2026 dengan nilai US$ 155 juta atau 93,55 persen dari total ekspor. Selanjutnya, perhiasan dan permata mencapai US$ 7,6 juta (4,60 persen), serta ikan dan udang sebesar US$ 2,6 juta (1,60 persen).

Komoditas lainnya meliputi garam, belerang dan kapur sebesar US$ 187 ribu (0,11 persen), produk hewani US$ 121 ribu (0,07 persen), mesin atau peralatan US$ 62 ribu (0,04 persen), biji-bijian berminyak US$ 27 ribu (0,02 persen), serta komoditas lainnya US$ 17,9 ribu (0,01 persen).

Wahyudin menjelaskan, komoditas tembaga menjadi ekspor terbesar dengan tujuan negara China, Thailand, dan Korea Selatan. Disusul kelompok perhiasan yang ditujukan ke Uni Emirat Arab, Thailand, dan Jepang. Sedangkan kelompok udang dan ikan ditujukan ke Amerika Serikat dan Malaysia.

Berdasarkan tujuan negara, Tiongkok menjadi negara tujuan dengan nilai ekspor terbesar, yakni US$ 81 juta atau 49 persen. Disusul negara kedua tertinggi ada Thailand dengan nilai ekspor US$ 50,3 juta (30,34 persen), Korea Selatan US$ 17,5 juta (10,55 persen), Vietnam US$ 4,1 juta (2,48 persen), Taiwan US`$ 4 juta (2,41 persen).

"Kemudian ada Uni Emirat Arab dengan nilai ekspor US$ 3,6 juta (2,20 persen). Disusul Amerika Serikat US$ 2,6 juta (1,59 persen), Jepang US$ 1,67 juta (1,01 persen), Australia US$ 422 ribu (0,08 persen), dan negara lainnya US$ 140 ribu (0,08 persen)," tutur Wahyudin.