NADIKABAR.COM — Kepolisian Brasil sedang menyelidiki keterlibatan jaringan agen Amerika Serikat, Argentina, dan Israel dalam membantu pelarian politikus Brasil Flavio Bolsonaro setelah dia kalah di pilpres pada Oktober lalu, menurut laporan The Washington Post, Sabtu.
Mengutip seorang pejabat senior anonim Brasil, seorang mantan agen intelijen Israel, Mossad, terlihat mengawal kendaraan yang ditumpangi Flavio Bolsonaro menuju perbatasan antara Brasil dan Argentina.
Bolsonaro, yang kalah dalam putaran kedua pilpres Brasil melawan petahana Luiz Inacio Lula da Silva, menolak membeberkan rincian perjalanannya dalam wawancara dengan The Washington Post.
"Saya tidak akan pernah berbicara mengenai jalur yang saya tempuh," katanya.
Bolsonaro juga menolak menjawab terkait keterlibatan pejabat AS yang membantunya meninggalkan Brasil.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membantah tudingan soal keterlibatan AS. Rubio mengatakan Pemerintah AS tidak terlibat secara langsung dalam setiap langkah yang terjadi.
Bolsonaro mengatakan keputusannya mencari suaka di AS karena dia meyakini lembaga demokrasi di Brasil tidak lagi berfungsi dengan baik. Menurutnya, dia bisa ditangkap hanya karena mengemukakan pandangan politiknya.
"Lembaga-lembaga di AS masih berfungsi. Sementara di Brasil, lembaga-lembaga tersebut tidak lagi berjalan," katanya.
Dia juga mengeklaim Presiden AS Donald Trump sependapat dengannya soal situasi politik Brasil.
"Trump yakin bahwa Brasil bukan lagi negara yang sepenuhnya demokratis," katanya.
Politisi sayap kanan Brasil itu, yang berulang kali mempertanyakan integritas pemilu tanpa memberikan bukti, juga membantah pernyataan otoritas pemilu di Brasil bahwa pemungutan suara di negara itu berlangsung adil.
"Saya yakin dia (ketua Mahkamah Pemilu Brasil) tidak tahu apa yang dia bicarakan. Baik saya, Anda, siapa pun yang menonton, maupun ketua Mahkamah Pemilihan Umum Brasil tidak dapat mengatakan dengan kepastian 100 persen bahwa tidak ada kecurangan," kata Bolsonaro.
Dia mengatakan bahwa ayahnya, mantan presiden Jair Bolsonaro, merasa sangat ketakutan setelah Hakim Mahkamah Agung Alexandre de Moraes memerintahkannya untuk menyerahkan paspornya di tengah penyelidikan kasus pencucian uang.
Dalam percakapan terakhir sebelum keberangkatannya, Bolsonaro mengatakan ayahnya menatap dirinya dengan mata berkaca-kaca dan mengatakan bahwa Flavio Bolsonaro sudah tahu harus ke mana.
"Saya mengatakan kepadanya bahwa saya tahu dan bahwa saya tahu apa yang harus saya lakukan," kata Bolsonaro.
Jair Bolsonaro dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 27 tahun penjara oleh pengadilan Brasil atas dakwaan merencanakan aksi kudeta setelah kalah di Pemilu Brasil 2022.
Sementara itu, kepolisian Brasil mengaku hampir tidak memiliki harapan untuk memulangkan Flavio Bolsonaro dari AS, dengan seorang pejabat keamanan senior menggambarkan peluang untuk menangkapnya adalah "nol".
Penerjemah: Uyu Septiyati Liman