Ia menjelaskan Indonesia memiliki keunggulan sumber daya mineral strategis, terutama nikel, yang berpotensi mendukung pengembangan industri baterai dan penyimpanan energi.
Namun, katanya, keunggulan tersebut harus diikuti penguasaan teknologi inti, termasuk material katoda, elektrolit, daur ulang baterai, dan teknologi sel surya perovskit.
"Indonesia memiliki bahan baku, pasar yang besar, dan fasilitas industri yang mulai berkembang. Tantangan berikutnya adalah bagaimana kita mampu membawa hasil penelitian dari laboratorium menuju penerapan dalam skala industri. Perguruan tinggi, lembaga riset, dan dunia usaha harus bekerja bersama agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok sumber daya, tetapi juga mampu menguasai ilmu pengetahuan dan menghasilkan teknologi energi bersih secara mandiri," katanya.
Melalui penyelenggaraan ELBC 2026, Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo) menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasi antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan lembaga riset dalam membangun ekosistem energi nasional yang semakin mandiri dan kompetitif.
Forum ini diharapkan mampu mendorong pengembangan investasi berbasis teknologi, mempercepat komersialisasi hasil riset, serta memperkuat kemampuan industri nasional dalam menghadapi transformasi energi global.