"Jika biasanya 300.000 per rumpun (bibit), dengan sistem PM-AAS ini bisa menjadi 800.000. Jadi dia semakin rapat ke belakang tapi barisannya tetap 25 cm. Lebih efektif, efisien," katanya.

Dirinya berharap, kedepannya seluruh wilayah di Aceh dapat mengikuti program PM-AAS tersebut, apalagi mendapatkan pendampingan dari para penyuluh pertanian di daerah masing-masing.

"Penyuluh-penyuluh kita ini, sesuai target Pak Menteri Pertanian, harus mendampingi 50 hektare per satu orang penyuluh," ujarnya.

Kementan, lanjut Firdaus, terus memberikan dukungan terhadap kebutuhan teknis di lapangan. Seperti seeder (alat sorong benih padi), disediakan untuk semua penyuluh dan semua desa.