NADIKABAR.COM — Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko meyakini apa yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto saat ini demi kemajuan Indonesia. Budiman menyebut setidaknya ada tiga kelompok yang akan bertentangan dengan cara pendekatan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Budiman menyampaikan hal tersebut dalam acara refleksi 2 tahun yang digelar relawan Gerakan Cinta Prabowo di Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026). Budiman menyebut kelompok-kelompok tersebut anti-kemandirian bangsa hingga anti-kemajuan.

"Ada tiga orang yang akan melawan cara pendekatan Pak Prabowo ini. Kaum neoliberalis yang anti-kemandirian bangsa, kaum sosial liberal yang anti-kehadiran negara, dan kaum populis agraris yang anti-kemajuan," kata Budiman.

Budiman menyebut kaum tersebut tidak suka Indonesia maju dan mandiri. Mereka juga, katanya, adalah kelompok yang punya kekhawatiran tersendiri.

"Mereka tidak suka, kaum neoliberal, bangsa ini mandiri, bisa bikin chip sendiri, bisa punya model AI sendiri, bisa punya mobil nasional sendiri. 'Wah nanti enggak laku mobil kita di Indonesia'," katanya.

"Kaum sosial liberal, mereka trauma dengan kehadiran negara. 'Nanti otoriter,' Disamakan dengan Orde Baru. Padahal beda. Kehadiran negara oleh Pak Prabowo adalah bukan untuk membela cukong," tambah dia.

Kemudian ada kaum populis agraris yang menurutnya tidak siap jika petani alami kemajuan. Budiman menyebut bahwa pemikiran Prabowo sejatinya mirip dengan para pendiri bangsa.

"Mereka belum bisa terima nelayan itu punya kapal modern. 'Wah, ini nggak rakyat lagi ini kalau nelayannya pakai kapal modern. Kalau petani ngerti akuntansi, nggak, petani itu enggak boleh ngerti akuntansi, ngertinya macul aja," ucap dia.

Lebih lanjut, Budiman mengatakan bahwa di Indonesia elitenya lucu. Karena jika dekat dengan warga jadi minder dan jika bergaul di level internasional maka tidak dekat dengan warga.

"Biasanya di Indonesia elitenya itu lucu. Kalau dia dekat dengan rakyat, dia cupet dan minder. Kalau dia gaul internasional, dia enggak dekat dengan rakyat. Tapi kalau pendiri republik kita, dekat dengan rakyat iya, dekat dengan petani iya, gaul dengan pemimpin-pemimpin dunia juga iya," ucap dia.

"Pak Prabowo mengembalikan tradisi elite Indonesia yang hatinya dekat dengan wong cilik, tapi saat bersamaan bisa ngobrol santai dengan pemenang Nobel tanpa rasa minder," tambahnya.