"Bukti yang jelas adalah lagu Ya Lal Wathon yang sekarang menjadi lagunya Nahdlatul Ulama. Lagu ini bisa dikatakan adalah lagu patriotik, lagu nasionalis, lagu yang dibuat oleh kelompok religius, tapi semangatnya adalah semangat cinta tanah air dan semangat nasionalisme yang luar biasa," jelasnya.
"Yang menarik bagi kita semua, terutama generasi muda, yang menarik adalah bahwa lagu ini diciptakan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah belasan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan. Pada waktu itu kita juga belum tahu negara yang diproklamasikan bentuknya bagaimana, namanya saja belum begitu jelas, tapi pemimpin-pemimpin religius berani membuat lagu yang demikian patriotik dan demikian nasionalis. Belasan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan sudah ada lagu ini," imbuhnya.
Presiden lantas mengutip sepenggal lirik Ya Lal Wathon. Yaitu 'Pusaka hati wahai tanah airku, cintamu dalam imanku. Jangan halangkan nasibmu, bangkitlah hai bangsaku'.
"Jadi cita-cita cita-cita pendiri NU adalah agar Bangsa Indonesia bangkit, agar Bangsa Indonesia setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini, agar bangsa Indonesia, kalau bangkit artinya bangsa Indonesia itu terhormat. Bangsa yang terhormat adalah bangsa yang adil dan makmur. Tidak ada bangsa yang dihormati kalau dia tidak makmur. Dan tidak ada kemakmuran tanpa keadilan. Saudara-saudara, karena itu saya sangat bangga hari ini. Saya berterima kasih," tandasnya.