NADIKABAR.COM — Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan bahwa kebudayaan harus dipandang sebagai infrastruktur kepercayaan dan pengaruh (soft power) Indonesia di kancah global. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan panel speech dalam acara Simposium Internasional ke-18 Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia di Al-Azhar Conference Center, Kairo, Mesir.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai wadah akademis dan diplomasi untuk membahas gagasan strategis, hasil riset, serta isu-isu krusial bagi kemajuan Indonesia. Pada tahun 2026 ini, PPI Dunia menyelenggarakan 18th OISAA International Symposium dengan mengusung tema 'Inventarisasi Budaya sebagai Instrumen Diplomasi, Revitalisasi Peradaban dan Identitas Bangsa'.
Pada kesempatan tersebut, Fadli menyoroti pentingnya peran pelajar Indonesia di luar negeri, termasuk di Mesir yang mencapai hampir 20.000 pelajar, dalam memperkuat diplomasi budaya dan peradaban bangsa. Menurutnya, terdapat lima peran strategis PPI bagi dunia, yakni Knowledge Connector, Institution Connector, penggerak Brain Circulation, Cultural Intelligence Contributor, serta Ecosystem Builder.
"Posisi pelajar sangat strategis. Pelajar adalah kurator narasi Indonesia, penghubung dan pembangun ekosistem, serta penggerak jejaring pendidikan dan kebudayaan. Pelajar juga memiliki akses terhadap pengetahuan, konteks lokal, dan jejaring yang sering kali tidak dapat dibangun melalui jalur formal. Lima peran strategis tersebut merupakan bekal Indonesia pada tingkat jejaring global," ujar Fadli dalam keterangan tertulis, Rabu (23/9/2026).