NADIKABAR.COM — Pakar kebijakan lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rijal Ramdani, MPA, PhD, menyoroti perluasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah di Kalimantan. Ia menilai, bukan fenomena El Niño yang menjadi pemicu utama karhutla, melainkan aktivitas manusia.

Rijal mengatakan, selaras dengan penjelasan Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sistem peringatan karhutla memetakan kondisi cuaca yang mendukung terjadinya kebakaran jika terdapat sumber api atau hotspot. Artinya, kondisi meteorologis dapat meningkatkan kerentanan, tetapi kebakaran tetap butuh sumber penyulut untuk bisa mulai terjadi.

Karena itu, ia menilai sumber api dalam banyak kejadian karhutla justru berkaitan dengan aktivitas manusia. Salah satunya yaitu praktik pembukaan lahan untuk berkebun atau bercocok tanam dengan menggunakan metode pembakaran.

"Kalau tidak ada El Niño, sebenarnya praktik membakar untuk bercocok tanam bisa dikendalikan. Tetapi, karena kondisi kering dan angin kencang, api menjadi sulit dikendalikan," terangnya dalam laman UMY, dikutip Kamis (27/8/2026).

Rijal mengingatkan, BMKG sudah memperingatkan sejak April 2026 bahwa periode kritis karhutla diperkirakan berlangsung mulai Mei hingga September. Risiko karhutla diprakirakan meningkat pada Agustus sampai September, seiring meluasnya wilayah dengan curah hujan di bawah normal.

Stasiun Klimatologi NTB BMKG dalam laman resminya menjelaskan, El Niño adalah fenomena iklim berupa peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian timur dan tengah di atas rata-rata normal.

Kondisi tersebut memicu pergeseran awan konveksi ke Pasifik Timur sehingga menyebabkan curah hujan berkurang drastis di Indonesia. Akibatny, musim kemarau jadi lebih kering dan panjang, dan muncul risiko kebakaran hutan.

Pada akhir Agustus 2026, BMKG mencatat El Niño kategori sangat kuat masih menjadi salah satu faktor utama yang mendukung kondisi kering di sebagian besar wilayah Indonesia. Rijal menjelaskan, karena El Niño berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan dan memperpanjang kondisi kering, maka vegetasi dan lahan gambut kehilangan kelembapan, sehingga semakin mudah terbakar.