β€œKalau dari ikan tidak usah ditanya, hampir seluruhnya,” ujar Trenggono saat membahas besarnya potensi pangan berbasis hasil laut. Menurutnya, inovasi pengolahan produk perikanan menjadi salah satu langkah penting agar sumber protein tersebut dapat dikonsumsi secara lebih luas dan terjangkau.

Dalam konteks tersebut, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan BRI memiliki posisi strategis untuk mendukung pengembangan ekosistem pangan melalui pembiayaan yang tidak hanya menyasar pelaku usaha yang telah berkembang, tetapi juga masyarakat yang baru memulai usaha.

β€œKalau kita bicara pembiayaan, BRI itu mulai dari orang yang baru punya niat untuk memulai usaha sampai dengan yang sudah besar. Jadi dari sisi ultramikro ada PNM, kemudian Pegadaian, lalu masuk ke segmen mikro, kecil, sampai korporasi. Ini yang membuat kami bisa melihat ekosistem secara lebih menyeluruh,” ujar Akhmad.

Menurut Akhmad, pendekatan ekosistem menjadi penting karena kebutuhan pembiayaan sektor pangan tidak berhenti pada tahap produksi. Pembiayaan dibutuhkan mulai dari sisi hulu, seperti penyediaan benih, pakan, dan peningkatan kapasitas produksi; tahap pengolahan untuk investasi, pengemasan, dan modal kerja; hingga sisi hilir yang mencakup distributor, pedagang, dan kebutuhan persediaan.

Salah satu implementasinya terlihat dalam ekosistem peternakan sapi perah di Malang. BRI dapat membiayai peternak sebagai produsen, mendukung koperasi yang memiliki fasilitas cold storage, sekaligus membiayai industri atau offtaker yang menyerap hasil produksi. Dengan pendekatan tersebut, pembiayaan tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan rantai nilai yang menciptakan kesinambungan usaha.