Kekuatan cadangan beras Indonesia tersebut tidak terlepas dari keberhasilan pemerintah memperkuat produksi dalam negeri dan mengoptimalkan penyerapan gabah serta beras petani melalui Perum BULOG. Hingga 27 Oktober 2026, realisasi pengadaan gabah dan beras dalam negeri telah mencapai 4.238.543 ton setara beras atau 105,96 persen dari target pemerintah sebesar 4 juta ton. Capaian ini menjadi rekor pengadaan tertinggi sepanjang sejarah BULOG, sekaligus menunjukkan keberhasilan penguatan peran negara dalam menyerap hasil panen petani, membangun cadangan pangan yang kokoh, dan menjaga keseimbangan pasokan dari tingkat produsen hingga konsumen.

Direktur Utama Perum BULOG, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani, S.Sos., S.H., M.Han., menegaskan bahwa besarnya stok beras yang dikelola pemerintah menjadi modal strategis untuk menjaga ketersediaan pangan masyarakat, terutama menghadapi peningkatan kebutuhan menjelang akhir tahun. “Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras menjelang Natal dan Tahun Baru. Stok beras yang dikelola Bulog saat ini sangat memadai, mencapai sekitar 4,5 juta ton,” tegas Ahmad Rizal dalam Rapat Koordinasi Terbatas Pangan di Jakarta, Senin (26/10).

Lebih lanjut, Ahmad Rizal menekankan bahwa kekuatan cadangan beras nasional harus diikuti dengan pengelolaan dan penyaluran yang optimal agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Cadangan yang besar bukan sekadar menunjukkan kemampuan negara dalam menyimpan pangan, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas harga, memperluas akses pangan, serta memberikan perlindungan bagi masyarakat ketika menghadapi tekanan pasar. “Arahan pemerintah sangat jelas, stok yang melimpah harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, Bulog tidak hanya memastikan beras tersedia di gudang, tetapi juga mempercepat penyalurannya melalui SPHP dan bantuan pangan,” ujarnya.