Penguatan ekosistem tersebut juga diarahkan hingga tahap hilirisasi hasil peternakan. Produksi telur dari peternak mikro dan kecil diharapkan dapat terserap melalui pasar reguler, pemenuhan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pengembangan industri pengolahan telur. Dalam rancangan yang dibahas, sekitar 1,9 juta ton telur diproyeksikan terserap melalui pasar reguler, termasuk untuk mendukung kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan masyarakat. Selain itu, pengembangan industri pengolahan telur menjadi produk cair maupun tepung telur turut didorong untuk memperluas pasar domestik serta membuka peluang ekspor.
Dari sisi pelaksanaan, BULOG akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian, koperasi peternak, kelompok tani, dan pemangku kepentingan terkait untuk mematangkan mekanisme penyerapan surplus jagung, pengelolaan cadangan melalui skema pergudangan, serta distribusi sesuai kebutuhan di lapangan. Sinergi ini menjadi penting untuk memastikan produksi jagung dalam negeri tidak hanya meningkat secara kuantitas, tetapi juga memiliki tata niaga yang lebih terarah, efisien, dan mampu memberikan nilai tambah bagi seluruh pelaku usaha di sepanjang rantai pasok.
Melalui penguatan peran sebagai penyangga jagung nasional, Perum BULOG berkomitmen mendukung terciptanya keseimbangan antara kepentingan petani sebagai produsen dan peternak sebagai pengguna jagung pakan. Integrasi produksi, penyerapan, penyimpanan, distribusi, hingga hilirisasi diharapkan menjadi fondasi bagi sistem pangan nasional yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Dengan mengutamakan hasil produksi dalam negeri serta keberlangsungan usaha petani dan peternak rakyat, BULOG terus mengambil bagian dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia.