Menurut dia, upaya mewujudkan "Pulauku Nol Sampah" tidak cukup hanya dengan mengandalkan kegiatan pengangkutan dan pembersihan sampah. Namun, diperlukan perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat, terutama dalam memilah sampah sejak dari sumber serta mengoptimalkan pemanfaatan kembali sampah yang selama ini dianggap sebagai residu.

Untuk mewujudkan hal tersebut, kata Fadjar, pihaknya mendorong keterlibatan seluruh pemangku kepentingan di Pulau Pramuka. Mulai dari petugas PPSU, PJLP, tokoh masyarakat, pengurus RW, LMK, kader lingkungan dan kader sampah, hingga pelaku usaha serta masyarakat secara luas.

"Kolaborasi ini diharapkan dapat membangun tanggung jawab bersama dalam menjaga kebersihan pulau dan menjaga 2,5 ton sampah yang dihasilkan setiap harinya tuntas di TPS 3R. Serta menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” kata Fadjar.