Kemudian emas perhiasan mengalami inflasi 1,48% dengan andil 0,03%, akademi/perguruan tinggi inflasi 1,26% dengan andil 0,03%, dan beras yang mengalami inflasi 0,49% dengan andil 0,02%.
Kemudian daging sapi mengalami inflasi 1,87% dengan andil 0,02% serta kacang panjang yang mengalami inflasi 17,95% dan andilnya 0,01%.
Sementara itu, terdapat sejumlah komoditas yang menahan laju inflasi. Angkutan udara menjadi komoditas dengan andil negatif terbesar, yakni 0,17%.
Bawang merah mengalami deflasi 15,04% dengan andil negatif 0,06%. Kemudian tomat mengalami deflasi 20,26% dengan andil negatif 0,03%. Adapun bawang putih tercatat mengalami inflasi 7,61% dengan andil negatif 0,03%.
Inflasi secara m-to-m terjadi di seluruh kabupaten/kota IHK di Jawa Timur. Inflasi tertinggi tercatat di Banyuwangi sebesar 0,86%, sedangkan terendah terjadi di Surabaya sebesar 0,09%.
"Jika dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia, sebanyak 27 dari 38 provinsi mengalami inflasi pada Agustus 2026, termasuk Jawa Timur," pungkas Herum.