Budi daya kopi memiliki sejarah panjang di Timor-Leste, dengan produksi organik menjadi salah satu ciri khas kopinya. Selama bertahun-tahun, kopi Timor-Leste terutama diekspor ke sejumlah pasar mancanegara seperti Jepang, Australia, dan Selandia Baru. "Paviliun ini menarik banyak pengunjung, dan saya berharap semakin banyak orang mengenal serta menyukai kopi Timor-Leste," sebut Zania Abuk Da Costa, seorang peserta pameran asal Timor-Leste yang baru pertama kali berkunjung ke Tiongkok. Dia berharap pameran ini dapat membantu lebih banyak konsumen Tiongkok mengenal kopi Timor-Leste dan berharap untuk dapat kembali berpartisipasi dalam pameran tahun depan. Selain kopi, paviliun tersebut juga menampilkan berbagai produk teknologi pertanian seperti pencatat data (data logger) dan sensor cuaca (weather sensor), yang mampu mengumpulkan data mengenai kecepatan angin, curah hujan, serta arah angin, serta memantau radiasi matahari. "Kami berharap dapat memperkenalkan produk dan solusi pemantauan meteorologi Timor-Leste kepada lebih banyak orang serta menemukan mitra potensial melalui pameran ini," kata Santiago Da Silva, peserta pameran. Kopi, kerajinan tangan, dan peralatan teknologi tersebut memberikan gambaran yang lebih beragam mengenai negara kepulauan di Asia Tenggara itu, sekaligus mendekatkan produk-produknya ke pasar Tiongkok.

Di area pameran "City of Charm", Menteri Perdagangan dan Industri Timor-Leste Filipus Nino Pereira memotong pita peresmian stan Baucau. Dia menyebutkan, "Ini bukan hanya pembukaan sebuah stan, melainkan juga menjadi momen penting untuk menampilkan produk-produk dan budaya Timor-Leste serta mendorong integrasi ekonomi regional." Bagi pelaku usaha Timor-Leste, keikutsertaan dalam pameran itu juga merupakan kesempatan untuk menjajaki pasar baru. Dalam beberapa tahun terakhir, Aires E. AparΓ­cio Guterres, atase Perdagangan Kedutaan Besar Republik Demokratik Timor-Leste di Tiongkok, telah beberapa kali mengunjungi Guangxi, mulai dari pasar rempah-rempah di Yulin hingga perusahaan manufaktur pintar, untuk mempelajari pasar Tiongkok. Dia menyatakan bahwa Timor-Leste dapat memanfaatkan Kanal Pinglu dan Pelabuhan Teluk Beibu di Guangxi guna memperkuat konektivitas logistik regional, sehingga dapat mendorong produk-produk seperti kopi organik, vanila, dan hasil perikanan masuk ke pasar Tiongkok, serta mempermudah impor peralatan industri, material bangunan, serta pasokan lainnya yang diperlukan untuk pembangunan dari Tiongkok.

"Timor-Leste berharap dapat menjadi simpul yang menghubungkan Tiongkok, ASEAN, dan negara-negara Pasifik," ujar SidΓ³nio Trindade da Costa Freitas, wakil ketua Kamar Dagang dan Industri Timor-Leste (CCI-TL), dalam pertemuan yang berkaitan dengan KTT Bisnis dan Investasi Tiongkok-ASEAN. Dia berharap semakin banyak produk unggulan dan pelaku usaha Timor-Leste dapat memasuki pasar Tiongkok dan menjangkau pasar yang lebih luas. Harapan tersebut juga tercermin dalam cakupan kerja sama Pameran Tiongkok-ASEAN yang terus berkembang. Sejak Pameran Tiongkok-ASEAN ke-11, ajang tersebut telah membentuk mekanisme mitra kerja sama undangan khusus. Cakupan kerja samanya telah berkembang, dari semula berfokus pada kemitraan "10+1" antara Tiongkok dan ASEAN, kini turut mendukung implementasi kerja sama Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) serta inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative). Dengan demikian, Tiongkok dan ASEAN dapat bersama-sama menjangkau negara-negara di luar kawasan sekaligus membuka lebih banyak peluang bisnis. Tahun ini, lebih dari 3.400 perusahaan dari 70 lebih negara berpartisipasi dalam pameran tersebut. Timor-Leste membawa kopi, kerajinan tangan, dan produk-produk teknologi ke Nanning, memberikan kesempatan kepada para pengunjung untuk mengenal negara itu sekaligus menjajaki peluang agar dapat memasuki pasar Tiongkok dan terhubung dengan pasar di kawasan yang lebih luas. Selesai