NADIKABAR.COM — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membuka akses publik untuk memantau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui laman resminya. Layanan ini menyajikan perkembangan penanganan karhutla berbasis data operasional yang diperbarui secara berkala.
Informasi tersebut dapat diakses oleh masyarakat melalui gis.bnpb.go.id/karhutla2026. Laman tersebut memuat beragam informasi penting, mulai dari peta sebaran titik panas (hotspot), estimasi luas lahan yang terbakar, data pengerahan pemadaman di lapangan, hingga kondisi kualitas udara beserta indeks pencemarannya.
Peta interaktif ini menyajikan pemantauan titik panas (hotspot) hasil integrasi dengan sistem SiPongi+ milik Kementerian Kehutanan. Fitur ini memetakan lokasi titik panas secara spasial di seluruh wilayah Indonesia menggunakan pantauan citra satelit.
Di bagian ini juga disajikan data penanganan harian seperti total hotspot hari ini, luas lahan terbakar dalam 24 jam terakhir, luas lahan yang telah ditangani baik di darat maupun udara, serta luas lahan yang akan dipadamkan. Kemudian, data jumlah personel gabungan, unit yang dikerahkan, hingga operasi patroli dan bahan yang digunakan untuk mengatasi karhutla.
Modul ini menampilkan grafik dan estimasi luasan area terbakar berdasarkan hasil patroli udara serta pemeriksaan lapangan (ground check) harian di provinsi rawan seperti Sumatera Selatan (Sumsel), Jambi, Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Barat (Kalbar), dan Riau.
Selain itu, bagian ini merangkum indikator statistik utama seperti total titik api (fire spot), luas lahan terbakar dalam 24 jam terakhir, luasan area yang berhasil ditangani melalui jalur darat dan udara, hingga luasan target pemadaman.
Bagian ini memuat visualisasi grafik batang horizontal yang menggambarkan komposisi intensitas titik panas (kategori Rendah, Sedang, dan Tinggi) per provinsi. Grafik ini memudahkan publik maupun tim lapangan untuk mengidentifikasi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi yang membutuhkan prioritas penanganan.
Fitur ini menampilkan pengerahan kekuatan di lapangan, mencakup komposisi personel dari berbagai instansi seperti TNI, Polri, BPBD, Pemda, perusahaan, relawan, MPA, Polisi Hutan, Manggala Agni, hingga Pemerintah Pusat. Publik juga dapat melihat detail operasional armada udara, jumlah sortie penerbangan (patroli, water bombing, dan OMC), serta volume bahan semai dan air yang telah dikerahkan.
Subbagian ini menyediakan pemantauan dampak lingkungan melalui tingkat konsentrasi partikulat PM2.5 dan jarak pandang (visibility) di bandara terdekat dari wilayah terdampak. Data ditampilkan berdasarkan kategori risiko (seperti Sedang, Tidak Sehat, Sangat Tidak Sehat, hingga Berbahaya) untuk membantu masyarakat mengantisipasi dampak asap karhutla.