NADIKABAR.COM — Wonogiri, Jawa Tengah, kembali memasuki musim kemarau dengan persoalan klasik bagi para petani, yaitu keterbatasan air. Penurunan curah hujan ini mempersempit pilihan komoditas yang dapat dibudidayakan, terutama pada lahan yang minim pasokan irigasi.

Kondisi tersebut mendorong sebagian petani mengubah pola tanam agar lahan mereka tetap produktif. Tembakau pun menjadi salah satu komoditas pilihan untuk mengisi musim kemarau karena kebutuhan airnya relatif lebih rendah dibandingkan jenis tanaman lainnya.

Fenomena ini terjadi di daerah yang perekonomiannya masih sangat bergantung pada sektor pertanian. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Kabupaten Wonogiri tumbuh 5,67 persen pada 2025 dengan nilai aktivitas ekonomi mencapai Rp42,82 triliun. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyumbang terbesar, yakni 27,36 persen terhadap perekonomian daerah.

Oleh karena itu, kemampuan petani dalam mengelola lahan di berbagai musim berkaitan langsung dengan keberlanjutan ekonomi, baik di tingkat rumah tangga maupun desa.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Wonogiri mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026, dengan puncaknya diperkirakan terjadi sekitar Agustus. BMKG juga memperkirakan sifat hujan selama musim kemarau 2026 di Jawa Tengah umumnya berada pada kategori bawah normal hingga normal.