NADIKABAR.COM — Penutupan tempat pembuangan akhir Piyungan di Yogyakarta pada 2024 lalu mendorong transformasi besar-besaran terhadap sistem pengelolaan sampah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Bagaimana cara salah satu kampus paling top di Indonesia ini mengelola sampahnya?
Menurut Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM, Arief Setiawan Budi Nugroho, ST, MEng, PhD, proses adaptasi tersebut memang tidak mudah. Kampus akhirnya membuat kebijakan internal yang mengharuskan setiap unit UGM memilah sampah.
"Maka kemudian UGM memulai dengan membuat suatu ketentuan, setiap unit harus memilah sampah menjadi tiga kategori. Yang pertama adalah sampah yang bisa di-recycle," ungkap Arief dalam rangkaian pengumuman UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2016 di Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Selasa (15/9/2026).