NADIKABAR.COM — Chief de Mission (CdM) Kontingen Indonesia Reda Manthovani mengatakan aksesibilitas menjadi salah satu perhatian utama selama mendampingi 103 atlet Merah Putih dalam Asian Para GamesAichi-Nagoya 2026.
"Yang menggunakan kursi roda, jelas itu perlu waktu, perlu kehati-hatian. Di sinilah perlunya tim CdM, tim pendukung, dengan penuh kesabaran membantu," kata Reda di Nagoya, Rabu.
Menurut dia, perhatian khusus bukan hanya diberikan terhadap kursi roda yang digunakan atlet untuk aktivitas sehari-hari, tetapi juga peralatan khusus yang digunakan untuk bertanding.
"Kursi roda untuk bertanding pun harus dijaga. Karena kalau rusak, lecet, tidak bisa dipakai untuk bertanding," ujarnya.
Reda mengatakan salah satu tantangan yang ditemui kontingen Indonesia adalah jarak antara titik penurunan kendaraan dengan sejumlah arena pertandingan.
Kendaraan tidak dapat mengantar atlet hingga tepat di depan arena sehingga mereka harus menempuh perjalanan sekitar satu kilometer dari titik penurunan.
Menurut Reda, kondisi tersebut cukup menyulitkan terutama bagi atlet yang harus berjalan kaki dalam jarak cukup jauh sebelum menjalani latihan ataupun pertandingan.
Tim CdM kemudian menyiapkan kursi roda tambahan bagi atlet yang membutuhkan agar perjalanan menuju arena tidak menguras kondisi fisik mereka.
"Akhirnya kita cari akal. Kalau tidak kuat, kita kasih kursi roda saja semua, biar lancar, dari tim pendamping yang mendorong. Alhamdulillah, ada masalah, ada solusi," kata Reda.
Kontingen Indonesia tiba di Jepang setelah menempuh perjalanan dari Solo dan masih harus menjalani proses aktivasi kartu identitas sebelum menuju penginapan masing-masing.
Reda mengatakan proses tersebut cukup menguras tenaga karena atlet harus mengantre sebelum mengurus bagasi dan melanjutkan perjalanan menuju hotel.
Meski demikian, kondisi atlet pada Rabu pagi dinilai baik dan sejumlah cabang olahraga telah mulai menjalani latihan.
Tim CdM juga terus memantau kebutuhan atlet selama berada di Jepang, termasuk makanan serta kebutuhan pendukung lainnya.
Kontingen Indonesia turut diperkuat tim medis yang terdiri atas dua dokter, tiga fisioterapis, dan tiga masseur.