Sejarah juga tercipta di nomor bulutangkis putra Indonesia yang berhasil mengalahkan China di final. Hasil ini membawa Indonesia lepas dari kebuntuan medali emas Asian Games selama 28 tahun.
Sementara dari Panahan, Nurisa Dian Ashrifa adalah atlet yang pertama kalinya mempersembahkan emas dalam sejarah Asian Games . Kejutan juga datang dari cabor-cabor debutan seperti Teqball, Padel, MMA dan Esport yang berhasil membawa pulang medali perak dan perunggu ke Tanah Air.
Bagi Todotua, segala perjuangan atlet Indonesia di Aichi-Nagoya, mengingatkan dirinya kepada motif Gorga dan Limar yang dikenakan oleh Kontingen Indonesia selama di Jepang.
"Saya teringat saat defile pembukaan. Tim Indonesia berjalan membawa Gorga dan Limar. Gorga melambangkan kekuatan dan perlindungan, sementara Limar membawa makna kehormatan dan keunggulan. Hari ini, filosofi itu seperti menemukan maknanya sendiri," ucapnya.
Dia menyebut seluruh rangkaian kerja Tim CdM sejak masa persiapan, keberangkatan, selama atlet dan ofisial bertanding, hingga kepulangan menjadi bagian dari evaluasi yang akan dilaporkan kepada NOC dan Kemenpora.
"Selebihnya nanti kita akan laporkan ke NOC dan juga kepada Kemenpora untuk menjadi suatu review bagi dunia industri olahraga nasional kita ke depannya," ujar Todotua.
"Sekali lagi, terima kasih kami dari CdM. Mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak, kepada seluruh tim Chef de Mission, kepada NOC, Kemenpora, kepada seluruh sponsor yang memberi supporting kepada kami, dan juga Kedutaan Besar Jepang yang memberikan support, serta pemerintah negara Indonesia yang memberikan support," katanya.