Dalam pidatonya, Ceferin mengibaratkan situasi tersebut dengan cerita The Emperor's New Clothes karya Hans Christian Andersen.
"Hampir 200 tahun lalu, dia menulis Baju Baru Sang Kaisar. Kita semua tahu ceritanya. Seorang kaisar diyakinkan bahwa dirinya mengenakan pakaian yang sangat indah, pakaian yang katanya hanya tidak bisa dilihat oleh orang bodoh atau tidak cakap," katanya seperti dilansir ESPN.
"Para pengikutnya ikut membenarkan sampai seorang anak akhirnya mengatakan dengan lantang apa yang bisa dilihat semua orang. Kaisar itu telanjang."
Ceferin kemudian mengarahkan kritiknya pada cara FIFA menjelaskan kebijakan tersebut. Menurutnya, penggunaan istilah yang terdengar positif tidak otomatis membuat sebuah keputusan menjadi transparan atau demokratis. "Barangkali pesan moral dari cerita ini adalah kata-kata yang nyaman tidak dapat mengubah kenyataan yang tidak nyaman."