"Rutan Sumenep harus terbuka, sehingga masyarakat akan mengenal bahwa pemasyarakatan bukan lagi tempat pesakitan akan tetapi merupakan tempat pembinaan," tutur Aditya.

Soal anggaran kegiatan ini, Aditya mengaku pembiayaan alat dan bahan membatik berasal dari anggaran rutan dan laba penjualan produk batik karya para napi. Ke depan, imbuh Aditya, kelas membatik catra akan digelar rutin dan jangkauan pesertanya luas, yang mencakup murid-murid SD, SMP, SMA bahkan universitas.

"Anggaran yang digunakan untuk pengadaan bahan-bahan pembinaan yaitu dari anggaran UPT dan hasil laba penjualan batik Rutan Sumenep," pungkas dia.