NADIKABAR.COM — Salah satu hewan legendaris dari Kuningan adalah ikan dewa. Namun, di balik popularitasnya sebagai satwa langka yang dikeramatkan di tempat-tempat seperti Cibulan, Cigugur, hingga Pasawahan, upaya konservasi dan pengembangbiakan mandiri spesies ini menghadapi tantangan yang sangat berat.
Salah satu pembudidaya ikan dewa asal Desa Pasawahan, Embrik (71), mengakui kesulitan tersebut. Pensiunan ASN kehutanan tersebut bercerita bahwa ia sudah memulai budi daya tersebut sejak tahun 2018. Kala itu, ia tertarik untuk mempelajari teknik pemijahan ikan dewa setelah mendapatkan 9 indukan awal dari hasil penelitian balai perikanan di Bogor. Bibit tersebut kemudian dikawinkan silang (cross-breeding) dengan ikan dewa populasi asli dari Pasawahan.
"Asal usulnya tuh ikan tuh dari Pasawahan. Di Bogor, penelitian. Nah, dari Bogor saya dikasih sini, dikawinkan dengan ikan yang asli Pasawahan. Cuma 9 ekor yang dari persilangan itu. Untuk cara persilangannya itu yang perempuannya itu kan di-stripping, masukkan ke dalam Baskom. Dipisahin, terus jantannya dimasukkan di situ sama spermanya secara manual," tutur Embrik.
Embrik memaparkan bahwa berbeda dengan jenis ikan air tawar lainnya, ikan dewa memiliki kesulitan tersendiri dalam proses budi daya. Menurutnya, salah satu tantangan utama adalah sifat kanibal, yakni ikan dewasa yang cenderung memangsa benihnya sendiri.
Kondisi tersebut diperparah dengan produksi telur yang sedikit serta memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan lingkungan.
"Kalau ikan gurame itu satu ekor betina bisa 4.000 sampai 5.000 telur. Kalau ini cuma 1.000 butir. Dari sekitar 1.000 butir telur, hanya sekitar 30% atau 300-an yang berhasil menetas dan bertahan hidup. Terus telurnya kayak bebek gitu, nggak ditungguin. Begitu bertelur sudah, dikira hidup," tutur Embrik.