Temuan gua tersebut lambat laun tersebar dari mulut ke mulut. Keberadaan gua itu diketahui kalangan terbatas.

Menurut Ngatimin, beberapa orang datang ke gua untuk melakukan ritual dan juga ada yang bersemedi. Ngatimin tidak melarang mereka.

"Banyak orang-orang spiritual dan gus-gus datang, mereka mendapatkan gaman (pisau). Katanya ada yang dapat keris, tombak dan benda lain," jelasnya.

Sampai pada suatu ketika, terjadi longsor di lokasi dan mengenai rumahnya. Sejak saat itu ia melarang orang masuk ke dalam gua.

"Rumah saya kelongsoran terus saya larang orang masuk," tegasnya.