NADIKABAR.COM — Sebelum pensiun dari perusahaan obat dan kosmetika terkemuka pada 2023, Rudy sudah punya kesibukan lain di luar pekerjaannya. Tiga hari dalam sepekan-Jumat sore, Sabtu, dan Minggu-ia menghabiskan waktu di balik meja barista.

Selama sekitar enam tahun, Rudy menjadi peracik kopi di sejumlah kafe di kawasan Megamendung-Puncak hingga area camping ground Gunung Cidahu, Sukabumi.

Menimbang biji kopi, menggiling, lalu meraciknya menjadi minuman untuk pelanggan ternyata memberinya kesenangan tersendiri. Ia belajar secara otodidak, termasuk dari YouTube. Selebihnya, ia banyak belajar dari praktik dan mencoba memahami selera pelanggan.

"Bukan mengejar salary. Kalau pemesan kopi happy, rasanya wah banget. Lebih dari cukup," tutur Rudy saat berbincang dengan NadiKabar, Jumat (11/9/2026).

Rudy tidak terpaku pada satu jenis atau komposisi kopi. Arabika dan robusta bisa ia padukan sesuai permintaan pelanggan. Baginya, meracik kopi secara manual justru memberi ruang untuk bereksperimen. Pelanggan tidak hanya mendapatkan secangkir kopi, tetapi juga bisa diajak mengenal karakter biji dan cara penyeduhannya.

"Saya basic-nya melatih membuat kopi. Jadi bukan sekadar bikin kopi, tapi juga edukasi," ujarnya. Ia bahkan merasa metode manual membuatnya lebih leluasa menyesuaikan rasa.

"Kalau di Starbucks rasanya pasti sama karena dibuat mesin. Saya beda karena manual, tergantung permintaan pelanggan," katanya.

Bagi Rudy, kopi juga bukan sekadar minuman untuk menemani aktivitas. Ia punya keyakinan sendiri soal kopi hitam tanpa gula, creamer, maupun susu.

Ia mengaku pernah membuatkan racikan kopi untuk seorang dokter kenalannya yang semula menghindari kopi karena memiliki masalah lambung. Menurut cerita Rudy, setelah mencoba racikannya, keluhan sang dokter berkurang.