NADIKABAR.COM — China menyampaikan kritik terhadap Amerika Serikat (AS) dalam pidatonya di Majelis Umum PBB. China mengatakan kedaulatan negara-negara di kawasan Teluk harus dihormati dan mendesak "negara terkait" untuk menghentikan ancaman terhadap Kuba serta mencabut blokade terhadap negara tersebut.

Dilansir Reuters, Wakil Presiden China Han Zheng tidak menyebut AS secara langsung dalam pernyataannya Sabtu (26/7/2026). AS telah melakukan kampanye tekanan terhadap Kuba yang sebagian besar menghambat pengiriman minyak ke negara kepulauan tersebut. Perang AS terhadap Iran dimulai dengan serangan AS-Israel pada Februari.

Pernyataan tersebut sangat berbeda dengan suasana hangat yang terlihat awal pekan ini di Gedung Putih, ketika Presiden Donald Trump menjamu pemimpin China Xi Jinping dengan pertunjukan pesawat militer dan jamuan makan malam kenegaraan yang mewah.

"Negara-negara besar harus memiliki tanggung jawab khusus dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Mereka harus menjadi yang terdepan dalam mematuhi aturan, menjunjung supremasi hukum, dan melakukan apa yang benar," kata Han.

"China berpandangan bahwa kedaulatan dan keamanan negara-negara di Timur Tengah, termasuk negara-negara Teluk, harus dihormati."

Sebelumnya, Trump memperingatkan Xi agar tidak memberikan dukungan kepada Iran selama pembicaraan Washington dan mendapat jaminan bahwa China tidak akan melakukannya, kata Duta Besar AS untuk China pada Jumat.

Peringatan tersebut disampaikan setelah muncul laporan bahwa Beijing telah memasok Iran dengan peluncur rudal pertahanan udara yang dapat ditembakkan dari bahu. Selain itu, Iran dilaporkan menemukan cara untuk menghindari sanksi terhadap penjualan minyaknya dengan bantuan China.

Mengenai Kuba, Han mengatakan, "China mendesak negara terkait untuk segera menghentikan penggunaan ancaman kekuatan terhadap Kuba serta segera dan sepenuhnya mencabut blokade dan sanksi terhadap Kuba."

Jaringan listrik Kuba mengalami keruntuhan total awal bulan ini, menyebabkan negara tersebut gelap gulita dan jutaan orang kehilangan akses listrik ketika AS terus memberlakukan blokadenya.

Sistem pembangkit listrik Kuba yang sudah tua telah mengalami tekanan berat akibat kelangkaan bahan bakar dan infrastruktur yang rusak selama bertahun-tahun. Namun, blokade minyak yang diberlakukan AS sejak Januari memperburuk pemadaman listrik dan menyebabkan keruntuhan jaringan listrik secara berulang.

Han juga menggunakan pidatonya untuk menggambarkan China sebagai mitra yang dapat diandalkan di panggung global dan pembela teguh negara-negara berkembang.

"China berpandangan bahwa semua negara, baik besar maupun kecil, memiliki kedudukan yang setara sebagai anggota komunitas internasional dan urusan dunia harus ditangani oleh semua pihak melalui konsultasi," kata Han.