Sementara itu, turis Indonesia yang liburan ke China juga menunjukkan tren yang hampir sama. Keinginan mengeksplorasi beberapa destinasi sekaligus dalam satu perjalanan menjadi pertimbangan sebagian wisatawan +62 selama liburan.

"Wisatawan saat ini cenderung ingin mengeksplorasi beberapa destinasi dalam satu perjalanan. Karena itu, kami mengombinasikan Hong Kong dan China agar wisatawan bisa melihat perbedaan karakter kedua destinasi, sekaligus mendapatkan perjalanan yang lebih efisien," ujar Denisa Devi dari Travelica Trip.

Untuk durasi, perjalanan selama lima hari empat malam di China dengan itinerary yang lengkap digemari oleh wisatawan. Pemilihan destinasi dan lokasi wisata juga disesuaikan dengan tren yang sedang diminati. Waktu bebas juga tersedia agar wisatawan dapat mengeksplorasi destinasi secara mandiri.

Dari segi usia, Gen Z dan Milenial menjadi dua kelompok terbesar yang suka liburan ke China. Gen Z mencakup 33,6 persen, sedangkan Milenial mencapai 31,8 persen. Jika digabungkan, kedua generasi tersebut mencapai 65,5 persen dari wisatawan yang gemar liburan ke negeri Panda.

Sedangkan dari gender, menunjukkan tingginya partisipasi perempuan, yakni sebanyak 67,3 persen. Persentase sisanya yaitu laki-laki. Menurut Denisa, cukup banyak wisatawan perempuan yang melakukan perjalanan secara solo atau tanpa pasangan.

"Kami cukup sering melayani wisatawan perempuan yang bepergian sendiri. Mengingat China relatif aman sebagai tujuan wisata, kami lebih menekankan aspek kenyamanan dan kemudahan selama perjalanan, dengan dukungan fasilitas lengkap sejak keberangkatan hingga pulang," katanya.

Dengan persentase di atas 65%, gen Z dan Milenial menjadi salah satu pasar utama bagi sektor pariwisata China. Ke depan, wisatawan berusia muda akan terus diincar untuk paket-paket wisata yang memberi kebebasan beraktivitas secara mandiri yang sesuai dengan tren serta kebutuhan wisatawan.